12 Mei 2009

Managemen ASI Ekslusif Bagi Wanita Pekerja





A. Latar Belakang


SALAH satu dampak kehidupan modern adalah pada pengaturan peran dalam keluarga. Dahulu, pengaturan peran adalah ayah sebagai kepala keluarga yang bertugas antara lain memimpin keluarga dan mencari nafkah, ibu bertanggung jawab untuk urusan dalam rumah, serta anak-anak sebagai anggota keluarga yang disiapkan untuk berkembang di masa depan.


Masyarakat pekerja mempunyai peranan & kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan, dimana dengan berkembangnya IPTEK dituntut adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan mempunyai produktivitas yang tinggi hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan daya saing di era globalisasi.


Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003, pekerja di Indonesia mencapai 100.316.007 dimana 64,63% pekerja laki-laki dan 35,37% pekerja wanita. Wanita yang bekerja sesungguhnya merupakan arus utama di banyak industri. Mereka diperlakukan sama dari beberapa segi, hanya dari segi riwayat kesehatan mereka seharusnya diperlakukan berbeda dengan laki-laki dalam hal pelayanan kesehatan. Pekerja wanita dituntut untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas kerja secara maksimal, tanpa mengabaikan kodratnya sebagai wanita.


Sesuai dengan kodratnya, pekerja wanita akan mengalami haid, kehamilan, melahirkan dan menyusui bayi. Untuk meningkatkan kualitas SDM, dimulai sejak janin dalam kandungan, masa bayi, balita, anak-anak sampai dewasa. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi merupakan cara terbaik bagi peningkatan kualitas SDM sejak dini yang akan menjadi penerus bangsa. ASI merupakan makanan yang paling sempurna bagi bayi. Pemberian ASI berarti memberikan zat-zat gizi yang bernilai gizi tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan syaraf dan otak, memberikan zat-zat kekebalan terhadap beberapa penyakit dan mewujudkan ikatan emosional antara ibu dan bayinya.


Mengingat pentingnya pemberian ASI bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasannya, maka perlu perhatian agar dapat terlaksana dengan benar. Faktor keberhasilan dalam menyusui adalah dengan menyusui secara dini dengan posisi yang benar ,teratur dan eksklusif. Oleh karena itu salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana ibu yang bekerja dapat tetap memberikan ASI kepada bayinya secara eksklusif sampai 6 (enam) bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2(dua) tahun. Sehubungan dengan hal tersebut telah ditetapkan dengan Kepmenkes RI No. 450/MENKES/IV/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi Indonesia. Program Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif mempunyai dampak yang luas terhadap status gizi ibu dan bayi. . Bagi bayi yaitu melindungi dari infeksi gastrointestinal, bayi yang ASI ekslusif selama enam bulan tingkat pertumbuhannya sama dengan yang ASI eksklusif hanya empat bulan, ASI eksklusif enam bulan ternyata tidak menyebabkan kekurangan zat besi. Sedangkan manfaat bagi ibu yaitu menambah panjang kembalinya kesuburan pasca melahirkan, sehingga memberi jarak antar anak yang lebih panjang atau menunda kehamilan berikutnya.


Meski ASI eksklusif memiliki banyak keunggulan, jumlah ibu yang menyusui anaknya makin menurun. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%, sedangkan dipedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13%. Data terakhir menunjukkan prevalensi ASI eksklusif cenderung menurun di Indonesia, menurut Survey Sosial Ekonomi Indonesia 2004, dilaporkan bahwa 75% ibu menyusui ASI bayi mereka paling sedikit 12 bulan dan hanya 12% ibu menyusui ASI eksklusif hingga 6 bulan.


Pada ibu yang bekerja, singkatnya masa cuti hamil/melahirkan mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir sudah harus kembali bekerja. Hal ini mengganggu uapaya pemberian ASI eksklusif. Dari berbagai penelitian menunjukan banyak alasan untuk menghentikan ASI dengan jumlah yang bervariasi : 13% (1982), 18,2% (Satoto 1979), 48% (Suganda 1979), 28% (Surabaya 1992), 47% (Columbia), 6% (New Delhi).

Menurunya angka pemberian ASI disebabkan antara lain rendahnya pengetahuan para ibu mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi, persepsi sosio budaya yang menentang pemberian ASI, kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja (cuti melahirkan yang terlalu singkat, tidak adanya ruang ditempat bekerja untuk menyusui atau memompa ASI). Selain itu gencarnya promosi susu formula dan kebiasaan memberikan makanan/minuman secara dini pada sebagian masyarakat, menjadi pemicu kurang berhasilnya pemberian ASI eksklusif.


B. Tujuan Umum


Menilai efektivitas program dalam meningkatkan prevalensi ASI eksklusif bagi wanita pekerja dan meningkatan derajat kesehatan pekerja wanita dan bayinya dalam memberikan ASI eksklusif.

C. Tujuan Khusus


1. Meningkatkan prevalensi pemberian asi eksklusif bagi wanita pekerja.

2. Meningkatkan kesadaran masyarakat pekerja bahwa ASI mengandung zat gizi paling sempurna.

3. Terlaksananya kegiatan program ASI eksklusif bagi pekerja wanita

4. Meningkatnya produktivitas kerja dan kepuasan kerja

5. Membandingkan intervensi output sebelum dan sesudah program promosi ASI eksklusif serta mengetahui faktor risiko yang mempengaruhinya.


D. Manfaat Program


Manfaat program ASI eksklusif akan meningkatkan prevalensi pemberian asi eksklusif bagi wanita pekerja sehingga membantu mengurangi bayi mudah kena sakit dan meningkatkan status gizi, ibu akan mempersiapkan diri dalam masa menyusui, meningkatkan pemberdayaan masyarakat khususnya kesadaran gizi, memperkuat kapasitas pemerintah daerah untuk merencanakan dan mengelola program gizi dan untuk memberikan pelayanan gizi.


Peningkatan Pemberian ASI dilaksanakan sebagai upaya peningkatan kualitas SDM yang merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, khususnya dalam peningkatan kualitas hidup. Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) dilaksanakan secara lintas sektor dan terpadu dengan melibatkan Peran Serta Masyarakat khususnya masyarakat pekerja. PP-ASI menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat dan keluarga untuk mendukung ibu hamil dan ibu menyusui dalam melaksanakan tugas sesuai kodratnya. Membudayakan perilaku menyusui secara eksklusif kepada bayi sampai dengan usia 6 bulan. PP-ASI dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan di setiap tempat kerja.


E. Sasaran


Wanita pekerja yang mempunyai bayi umur 0-6 bulan.


F. Kegiatan


1. Konseling terhadap ibu – ibu yang mempunyai bayi umur 0-6 bulan, memberikan pelatihan cara menyusui yang benar sehingga akan mengubah perilaku melalui peningkatan pengetahuan, sikap, dan praktek.

2. Kampanye ASI mellalui media elektronik

3. Penyebaran materi (leaflet, poster, booklet, buku)

4. Pembinaan secara berjenjang


G. Materi


Bagaimana kita dapat mengelola ASI dengan berbagai jenis alat bantu. Dengan sedikit bersusah payah kelak ibu dan anak dapat memperoleh manfaat yang besar.


Memeras ASI bermanfaat untuk:

  • memberikan makan BBLR
  • menghilangkan bendungan
  • menjaga pasokan ASI saat ibu sakit
  • eninggalkan ASI untuk bayi saat ibu pergi atau bekerja
  • menghilangkan rembesan ASI

  1. Memeras ASI dengan tangan

Semua ibu harus belajar memeras ASI. Ibu dapat mulai belajar selama kehamilan dan dapat menerapkannya segera setelah melahirkan. Memeras dengan tangan tidak memerlukan alat bantu sehingga seorang wanita dapat melakukannya dimana saja dan kapan saja. Memeras dengan tangan mudah dilakukan bila payudara lunak. Lebih sulit lagi bila payudara sangat terbendung dan nyeri.


  1. Cara memeras ASI dengan tangan

- Siapkan cangkir, gelas atau mangkuk yang sangat bersih.

- Cuci dengan air sabun dan keringkan dengan tissue/lap yang bersih. Tuangkan air mendidih ke dalam cangkir dan biarkan selama beberapa menit. Bila sudah siap untuk memeras ASI, buang air dari cangkir.

- Cuci tangan dengan seksama.

- Letakkan cangkir di meja atau pegang dengan satu tangan lain untuk menampung ASIP.

- Badan condong ke depan dan sangga payudara dengan tangan.

- Letakkan ibu jari sekitar areola di atas puting susu dan jari telunjuk pada areola di bawah puting susu.

- Pijat ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada.

- Sekarang pijat areola di belakang puting susu di antara jari dan ibu jari. Ibu harus memijat sinus laktiferus di bawah areola.

- Tekan dan lepas, tekan dan lepas. Pada mulanya tidak ada ASI yang keluar, tetapi setelah diperas beberapa kali, ASI mulai menetes. ASI bisa juga memancar bila refleks pengeluaran aktif.

- Peras areola dengan cara yang sama dari semua sisi agar yakin ASI diperas dari semua segmen payudara.

- Jangan memijat puting susu itu sendiri. Jangan menggerakkan jari sepanjang puting susu. Menekan atau menarik puting susu tidak dapat memeras ASI. Ini merupakan hal yang sama terjadi bila bayi mengisap dari puting susu saja.

  1. Pompa listrik

Pompa listrik ASI lebih efisien dan cocok bagi pemakaian di rumah sakit. Tetapi, semua pompa mudah membawa infeksi. Hal ini sangat berbahaya bila lebih dari satu ibu menggunakan pompa yang sama.


  1. Cara botol hangat

Ini merupakan teknik yang bermanfaat untuk menghilangkan bendungan, terutama bila payudara sangat nyeri dan puting susu tegang.
Cara menggunakan teknik botol hangat adalah:

  • Cari botol besar (misalnya berukuran 1 liter, 700 ml, atau 3 liter) dengan leher lebar (bila mungkin).
  • Mintalah keluarga untuk memanaskan sejumlah air dan isilah botol dengan air panas. Biarkan beberapa menit, untuk menghangatkan kaca botol.
  • Bungkus botol dengan kain dan buang air panas.
  • Dinginkan leher botol dan masukkan ke dalam puting susu sampai menyentuh kulit di sekelilingnya dengan ketat.
  • Pegang kuat botol tersebut, setelah beberapa menit botol mendingin dan menimbulkan isapan lembut maka akan menarik puting susu.
  • Rasa hangat membantu refleks pengeluaran, dan ASI mulai mengalir dan mengisap botol. Kadang-kadang bila wanita pertama kali merasa isapan ini, ia akan kaget dan menarik botol. Sehingga harus ditaruh lagi air panas dalam botol dan mulai kembali.
  • Setelah beberapa saat, nyeri pada payudara berkurang dan memeras dengan tangan atau isapan sudah bisa dilakukan.


H. Penutup


Pekerja wanita dari beberapa segi berbeda dengan laki-laki, sehingga dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap pekerja wanita perlu memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan tersebut.

Suatu program pemberian ASI pada pekerja wanita mempunyai dampak positip tidak hanya untuk pekerja tersebut tetapi juga untuk keluarganya, masyarakat dan terutama untuk organisasi/perusahaan dimana wanita/ibu bekerja.

Untuk keberhasilan program ASI bagi pekerja wanita perlu adanya dukungan dari semua pihak khususnya pihak manajemen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar